“Jangan Bilang Tidak Bisa Ya..”

Pemanasan untuk melakukan tantangan 10 hari (syukur syukur 15 hari) sebenarnya sudah saya lakukan kemarin, yaaa semacam pemanasan sebelum kita senam gitu lah, gunanya untuk meregangkan dan melemaskan otot, supaya badan kita cukup lentur dan luwes pas senam beneran (gaya banget kan). Pemanasan yang saya lakukan kemarin sederhana saja sebenarnya, hanya menulis poin poin komunikasi produktif pada anak di atas selembar kertas putih, tujuannya supaya saya selalu ingat untuk memperbaiki pola komunikasi saya dengan anak. Kertasnya pun saya pilih yang ukuran folio lalu saya tempel di pintu kulkas. Kenapa di pintu kulkas? ya daripada saya tempel di pintu pagar gitu kan hehehe. Alasannya karena kulkas saya letaknya strategis, yaitu di pertigaan antara dapur, kamar mandi dan tempat jemuran, istimewa sekali bukan.

Dan hari ini tantangan pun dimulai (wooosshaaahh), target utama saya adalah pengendalian emosi. Menurut saya poin ini adalah pondasi dari semua poin kompro lain, karena ketika saya emosi, maka kata kata yang keluar dari mulut ini sungguh sangat kontraproduktif, hampir semua poin kompro akan saya langgar sekaligus tanpa ampun, dan membayangkan efeknya kalau sering dilakukan rasanya kok ngeri sendiri.

Karena pagi ini jadwal homeschool Aya adalah aktifitas outdoor, maka pada jam 8.30 pagi kami sekeluarga sudah meluncur ke alun alun Sidoarjo. Seperti biasa ketika melihat berbagai mainan, Aya pun langsung semangat untuk mencoba. Mainan pertama yang dia coba adalah Monkey Bar, agak kaget juga karena sebelumnya dia tidak pernah berani memanjat tiang itu sampai keatas, tapi saya menahan diri untuk tidak menyuruhnya mencoba yang lain, toh dia sendiri yang memilih.

Benar dugaan saya, baru memanjat setengah jalan Aya sudah takut, dia mulai merengek pada papanya untuk turun. Biasanya kalau hal semacam ini terjadi, saya akan memaksanya untuk terus mencoba tapi dengan kata-kata yang tidak produktif:

‘halah, gitu aja kok takut sih’

‘udah coba aja, masa kalah sama adek yang itu’

‘kalau ga berani kita pulang aja ya’

dan ini semua bersumber dari saya yang tidak bisa mengendalikan emosi, saya tidak sabar melihatnya merengek karena takut. Tapi tadi pagi saya mulai belajar melakukan sesuatu yang berbeda, sebisa mungkin saya usahakan untuk tidak terbawa emosi. Maka yang saya lakukan adalah menyemangatinya daripada memaksanya, lalu terus memberikan afirmasi positif bahwa Aya memiliki kemampuan untuk melawan rasa takutnya. Saya terus memberi sugesti positif bahwa Aya BISA.

Mama: ‘ayo Aya, kamu bisa’

Aya: ‘gak bisa ma, aku takut’

Mama: ‘dicoba dulu Aya, sama papa sudah dijagain dari bawah’

Aya: ‘ga bisa ma’

Mama: ‘jangan bilang ga bisa nak, bilang bisa biar jadi do’a’

Kira-kira seperti itu dialog saya dan Aya tadi. Dan apakah Aya akhirnya berhasil? Sayangnya belum hahha. Tadi ia akhirnya menyerah pada rasa takutnya, tapi tidak papa berarti lain kali harus kami coba lagi untuk mengajaknya naik Monkey Bar. Setidaknya menurut saya, jika saya terus memberi sugesti positif cepat atau lambat Aya akan bisa mengalahkan rasa takutnya. Saya cukup bersyukur karena sudah cukup mampu mengendalikan emosi sehingga kata kata yang muncul dari mulut saya tidak destruktif.

 

Sidoarjo,

Dewi Anggraini

 

#hari1

#gamelevel1

#tantangan10hari

#komunikasiproduktif

#kuliahbundasayang

#institutibuprofesional

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *